Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Thursday, September 29, 2011

Pengcab Palembang Memperbanyak SSB & Turnamen SSB

PALEMBANG - Pengurus Cabang (Pengcab) PSSI Kota Palembang tebar ambisi besar. Dengan kepengurusan baru (periode 2011-2015) organisasi di bawah pimpinan Romi Herton tersebut, bertekad kembali kibarkan panji sepak bola Palembang dan lebih semarakkan sepak bola di kota metropolis.
Salah satunya dengan meperbanyak sekolah sepak bola (SSB) dan menggelar kompetisi untuk kalangan pelajar minimal dua kali setahun. Kemudian tidak ketinggalan kembali menghidupkan PS Palembang serta akan melaksanakan turnaman Wali Kota Cup antarkelurahan 16 kecamatan se-Kota Palembang.
“Kami mengharapkan support pemerintah Kota Palembang, KONI Kota Palembang kemudian pihak sponsor untuk ikut serta memajukan sepak bola di Palembang,” kata Romi (sapaan akrab Romi Herton) usai pelantikan Pengcab PSSI Kota Palembang di Ballroom Hotel Aryaduta, Palembang kemarin, (29/9).
Namun masih kata Wakil Walikota Palembang tersebut untuk hidupkan Segentar Alam (julukan PS Palembang) pihaknya tidak mau cara instant atau men-tack over klub lain. Dia lebih suka berkompetisi dari awal. “Kini PS Palembang berada di Divisi III. Yang jelas saya akan memaksimalkan talenta-talenta lokal,” tambah Direktur Utama Romi Herton Foundation (RHF) ini.
Langkah awal pihaknya telah membentuk tim U-15 proyeksi Piala Haornas serta U-18 persiapan hadapi kejuaraan Suratin. Kemudian tidak lama lagi bakal lakukan seleksi pemain U-23 sebagai cikal bakal PS Palembang.
Terlebih menurut Romi, sebanyak 56 pengurus yang baru dilantik merupakan orang-orang profesional dan berkompeten di dunia sikulit bundar. Mulai dari mantan pemain, pemerhati olahraga serta kalangan pengusaha.
“Kurang lebih 95 persen pengurus merupakan muka baru. Harapan kami bisa lebih bersinergi dan semangat lagi untuk membangkitkan sepak bola. Kami juga berterima kasih pada pengurus periode 2006-2011 terutama buat Eddy Santana Putra sebagai Ketua Umum,” pungkas dia.
Sementara itu Eddy Santana Putra Ketua Umum Pengcab PSSI Palembang periode 2006/2011 yang juga Wali Kota Palembang turut berikan support keberadaan Pengcab PSSI Palembang tidak terkecuali dengan PS Palembang. “Kami (Pemerintah Kota Palembang) bersama KONI Palembang siap membantu dan akan mencarikan jalan keluar untuk pendanaan,” tambah dia.
Dilain Pihak Ketua Umum Pengurus Provinsi (Pengprov) PSSI Sumsel MC Baryadi menilai pembinaan olahraga usai dini memang perlu. Namun kompetisi juga tidak boleh dikesampingkan. “Harapan kami PSSI Palembang bisa lebih sering mengelar turnamen,” tambah Baryadi.
“Dengan talenta atau potensi-potensi lokal bakal kelihatan. Saya bangga meski tim Sumsel gagal di Pra PON karena menggunakan talenta lokal Sumsel,” pungkas Ketua Pujasuma Sumsel ini. (mg42)


Pengurus Pengcab PSSI Palembang Periode 2011-2015
Ketua Umum : H Romi Herton SH MH
Wakil Ketua I : Ir Khairul Anwar MM
Wakil Ketua II : DRS. Reza Pahlevi. MM
Wakil Ketua II : Syafik Gani
Sekretaris : Masud Dairan, S.Sos
Wakil Sekretaris 1 : Rudy Murod
Wakil Sekretaris II : H Mahmud
Bendahara : Hermanto Wijaya

Kunci Pengembangan Usia Muda di Eropa

Tahun 2007 divisi Pembinaan Usia Muda Amerika Serikat mengadakan analisa kunci pengembangan usia muda di klub-klub elit Eropa. Analisa ini mencakup Teknik, Fisik, Psikologi & Sosial. Ini bisa menjadi perbandingan untuk meningkatkan pembinaan usia muda.

SSB Depati Amir Juara Liga Super SSB Pangkalpinang

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Sekolah Sepakbola (SSB) Depati Amir menjadi juara dalam Liga Super SSB Pangkalpinang Under 12, Kamis (29/09/2011). Melawan SSB Timah, SSB Depati Amir menang adu penalti.

Bertanding di lapangan sepak bola Pasir Putih, babak pertama kedua tim bermain imbang. Tak ada gol yang tercipta meskipun sejumlah peluang tercipta.

Dibabak kedua, barulah gol tercipta, Risky dari SSB Timah berhasil menciptakan gol. Namun kemenangan di depan mata sirna setelah Derry membalas gol sehingga skor sama.

Akhirnya SSB Depati Amir berhasil menjadi juara, setelah pada adu penalti tim asuhan Khailano itu menang 4-3.

Wednesday, September 28, 2011

Inilah Juara Final Liga Pendidikan Indonesia 2011

BANDUNG, KOMPAS.com - Dua tim dari Indonesia timur, yakni SMK Bina Informatika, Ternate, Maluku Utara, dan tim Universitas Negeri Cenderawasih, Papua, meraih gelar juara dalam Liga Pendidikan Indonesia 2011. Adapun juara tingkat SMP diraih oleh kesebelasan SMPN 3 Gresik, Jawa Timur.
Para pemain tim juara juga mendominasi kategori pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak. Untuk tingkat SMP, Moch Dimas Drajat terpilih sebagai pencetak gol terbanyak dengan 15 gol. Pemain terbaik tingkat SMP jatuh ke tangan Malik Rizaldi, rekan satu tim Dimas. Sementara kategori pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak tingkat SMA sederajat dan universitas masing-masing jatuh kepada Ilham Udin (SMK Bina Informatika) dan Hendru Korey (Uncen).
Tim SMPN 4 Semarang, Jawa Tengah, SMK Bina Informatika Ternate, dan tim Uncen Papua juga terpilih sebagai Tim Fair Play pada kompetisi kali ini. Penyerahan hadiah dilakukan setelah laga final oleh Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin dan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan Nasional, Suyanto.
Fisik jadi kunci
Tim SMK Bina Informatika menang 2-0 atas lawan mereka, SMK PGRI 109 Tangerang, Banten, pada final yang berlangsung 2 x 35 menit di Stadion Siliwangi, Bandung, Rabu (28/9). Penyerang mereka, Ilham Udin, mencetak dua gol bagi timnya pada menit ke-31 dan ke-46 tanpa balas.
Tim Universitas Negeri Cenderawasih menang tipis 1-0 atas lawannya, STMIK CIC, berkat gol semata wayang Hendru Korey.
Faktor fisik pemain diakui sebagai salah satu keunggulan tim dari Maluku Utara ataupun Papua. Pelatih SMK PGRI 109 Tangerang Dudung Hermawan mengatakan, fisik prima mendukung permainan cepat dan agresif tim asal Ternate. Sebaliknya, Hengky Uba, Pelatih SMK Bina Informatika, menjelaskan, kunci kemenangan mereka terletak pada keberhasilan dalam membaca strategi lawan.
”Tim lawan memainkan dua wingback dan hal itu berhasil kami antisipasi, ditambah permainan cemerlang dari Ilham Udin hari ini,” katanya.
Faktor fisik juga diakui Manajer STMIK CIC Cirebon Amroni sebagai salah satu penyebab timnya bermain kurang apik. Beberapa pemain tim itu cedera sehingga kondisinya kurang fit. ”Ditambah lagi ada beberapa pemain U-18 dari tim liga profesional yang memperkuat tim dari Papua,” ujarnya.
Terlena
Di laga final terakhir, pasukan SMPN 4 Semarang pada awalnya mampu mengendalikan pertandingan dan mengurung daerah pertahanan lawan. Dwi Candra, penyerang SMPN 4, bahkan mampu menjebol gawang SMPN 3 Gresik tanpa pengawalan.
Namun, kondisi berbalik setelah Moch Dimas Drajat mencetak gol pertama bagi SMPN 3. ”Anak-anak kelihatannya terlena dengan gol perdana sehingga konsentrasinya buyar,” ujar Pelatih SMPN 4 Muhammad Wiryo.
Pelatih SMPN 3 Gresik Adik Mulyo mengungkapkan, dia berhasil membaca strategi lawan yang memanfaatkan pemain sayap untuk menerobos lini pertahanan sehingga mengganti pola permainan dari 4-4-2 menjadi 4-1-1-3. Langkah tersebut memaksa pemain tim lawan merapat ke tengah lapangan dan bisa memanfaatkan peluang emas untuk mencetak gol

Tuesday, September 27, 2011

Jadwal Final Liga Pendidikan Indonesia 2011

Liga Pendidikan Indonesia
Liga Pendidikan Indonesia

Bola.net - Puncak Final Liga Pendidikan Indonesia (LPI) tahun ajaran 2010/2011, digelar di Bandung, Rabu (28/9). Segala persiapan sudah mulai dilakukan termasuk untuk acara penutupan perhelatan yang selalu digelar tiap tahun ini.
Pada tahun ini, pelaksanaan lebih istimewa karena partai final kategori SMP, antara SMPN 3 Gresik kontra SMPN 4 Semarang akan disiarkan langsung oleh dua stasiun TV nasional, SCTV dan TVRI pada pukul 15.00 WIB. Selain itu, dijadwalkan hadir pula Menteri Negara Pemuda dan Olahraga serta Menteri Pendidikan Indonesia guna untuk menutup rangkaian kegiatan tersebut.

Penutupan LPI tersebut juga akan disuguhkan pertunjukan tarian, pencak silat dan kesenian angklung serta penampilan artis CherryBelle, Group Dragonboys serta Freestyle.

Pertandingan final pun akan terpusat di Stadion Siliwangi, Bandung. Selain pada kategori SMP, partai final lain pun menggelar kategori SMA yang akan mempertandingkan SMA PGRI 109 Tangerang versus SMK Bina Informatika Ternate dan pada kategori perguruan tinggi tuan rumah Jabar STMIK CIC Cirebon melawan tim perwakilan Indonesia timur Univ. Cendrawasih Papua.

Jadwal Pertandingan

Final Tingkat SMA
Pukul 07.00 – 09.00 WIB
SMK Bina Informatika Maluku Utara vs SMA PGRI 109 Tangerang

Final Tingkat Perguruan Tinggi
Pukul 09.00 – 11.00 WIB
Universitas Cendrawasih Papua vs STMIK CIC Cirebon Jabar

Final Tingkat SMP
Pukul 15.00 – 17.00
SMPN 3 Gresik vs SMPN 4 Semarang

Monday, September 26, 2011

Kenapa Sepak Bola Jepang Bisa Maju?

TOKYO - Jepang baru saja memenangkan Piala Asia, naik ke 20 besar dalam peringkat FIFA dan jelas merupakan tim terbaik di Asia. Dan jika Anda pikir itu kebetulan, coba pikirkan lagi.
Beberapa bulan lalu di Cina, Jepang mengirimkan pemain muda ke turnamen Asian Games dan memenangkan kedua trofi baik laki-laki dan perempuan. Dan musim panas lalu Jepang telah menunjukkan yang paling sukses Piala Dunia, kalah pada perempatfinal hanya setelah dieliminasi oleh Paraguay dalam adu tendangan penalti.
Seperti baru-baru ini tahun 1988, Jepang gagal untuk memenangkan pertandingan atau mencetak gol di Piala Asia.
Jadi bagaimana Jepang bisa menjadi begitu baik?

Ada beberapa faktor yang memegang peran.
Saya punya tugas singkat di Hitachi Football Club pada tahun 1987. Dan setelah saya berhenti bermain saya memutuskan untuk terlibat dalam pengembangan usia muda. Saya mengangkat ide program klinik sepak bola nasional untuk Nestle Jepang, yang akan melakukan perjalanan ke 48 negara bagian di Jepang mengadakan klinik untuk anak-anak, orang tua dan pelatih. Saya melakukan ini dari 1989-1998, bepergian ke seluruh negeri, memakai kegiatan ini untuk membantu baik mempopulerkan permainan dan  mengajarkan keterampilan yang saya pikir diperlukan bagi pemain untuk menikmati permainan. Dan kemudian datang apa yang saya sebut badai yang sempurna.
Liga Profesional Jepang, J-League dibentuk pada tahun 1993 dan pada saat yang sama Asosiasi Sepakbola Jepang mengajukan tawaran menjadi penyelenggara Piala Dunia 2002.
Juga pada tahun itu, saya memperkenalkan ke Jepang program pengajaran teknis yang akan digunakan untuk mengembangkan bisnis sekolah sepak bola terbesar di Jepang. Pada tahun 1998 saya menyajikan acara televisi anak-anak No 1 dengan segmen yang disebut "Pojok Tehnik Sepakbola Tom-san."
Hampir semua pemain muda saat ini yang bermain di tim nasional tumbuh pernah menyaksikan pertunjukan saya sebelum pergi ke sekolah dan banyak berlatih keterampilan mereka sendiri di rumah. Saya juga memiliki banyak pemain muda yang sama melewati klinik saya selama bertahun-tahun, terutama, Shinji Kagawa. Saya mengenali dia di usia muda dan memilih dia dari beberapa ratus pemain. Keisuke Honda salah satu penggemar lain yang menyaksikan acara itu, pelatih nya mengatakan kepada saya. Yasuhito Endo, yang mencetak salah satu tendangan bebas yang luar biasa dalam pertandingan Piala Dunia melawan Denmark, juga seorang murid saya ketika ia masih kecil. Dan kapten tim nasional di bawah-23, mengenakan No bergengsi 10, Kota Mizunuma, adalah murid ketika ia masih kelas kelima dan keenam.
Banyak faktor yang berkontribusi terhadap keberhasilan Jepang saat ini. Federasi telah mendedikasikan sumber daya untuk pembangunan pemuda, untuk pria dan wanita. Hal ini telah menciptakan pusat-pusat pelatihan nasional di seluruh negeri yang didedikasikan untuk sepak bola dan memiliki program pemandu bakat yang terorganisasi dengan baik untuk melacak pemain muda paling berbakat. Ada sembilan daerah pelatihan yang telah didirikan yang terdiri dari 48 negara bagian. Saya telah bekerja di semua pusat-pusat ini selama bertahun-tahun, fokus pada pengembangan teknis dari baik pemain dan pelatih. Federasi juga memiliki dua akademi untuk pemain junior dan senior sekolah tinggi disebut JFA Akademi.
Semua 38 tim  J-League dari divisi pertama dan kedua wajib memiliki U-12, U-15 dan U-18 tim sebagai bagian dari organisasi mereka. Klub-klub mencoba untuk mengembangkan pemain dari usia muda. Juga, ada turnamen nasional di semua kelompok usia, yang sangat populer. Turnamen nasional tingkat SMA menarik lebih dari 40.000 penonton di final, yang diadakan di Stadion Nasional Tokyo. Final U12 disiarkan di TV nasional. Menang sering menjadi pengalaman yang mengubah hidup, suatu lencana keberhasilan.
Tidak ada libur untuk sepak bola di Jepang. Apakah usia muda, amatir atau profesional, pertandingan dimainkan selama 52 minggu per tahun. Pengembangan teknis bergandengan tangan dengan disiplin Jepang. Mentalitas Jepang yang berakar dalam kerja sama tim sebelum individu menterjemahkan sempurna ke lapangan sepak bola.
Permainan ini juga tertanam dalam budaya populer Jepang. Pada awal '80-an, sebuah strip komik baru, Kapten Tsubasa, mengatakan kisah seorang pemain sepak bola dan dibuat menjadi sebuah serial TV dan video game, dan memainkan peran penting dalam membantu untuk mempopulerkan olahraga di Jepang. Ini telah diikuti oleh acara TV lain bernama Inazuma Eleven.


Akhirnya, dengan keberhasilan Kagawa dan Honda di Eropa, dan kemenangan di Piala Asia, akan ada minat yang lebih besar dari luar negeri untuk pemain Jepang. Bahkan, bek Yuto Nagatomo pindah dari Cesena ke Inter Milan di Italia Seri A awal pekan ini. Usia muda telah mengambil perhatian dan bahkan lebih termotivasi untuk memenuhi impian sepak bola mereka.
Saya sangat beruntung telah berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Sebelum booming sepak bola dimulai di Jepang, saya melakukan perjalanan sebagai semacam penginjil sepak bola dimulai pada tahun 1989. Saya bangga dengan kontribusi saya ke Jepang dan bersyukur bahwa DVD saya tetap best-seller di situs Amazon.com Jepang.
Tom Byer, mantan direktur Coerver Coaching Asia, lahir di Bronx, NY Dia telah tinggal di Jepang selama lebih dari 25 tahun, di mana ia dikenal sebagai Tom-san, dan telah melakukan lebih dari 2.000 acara sepak bola untuk lebih dari 500.000 anak-anak. Dia juga muncul di acara, yang disiarkan secara nasional setiap hari untuk anak-anak.

36 Finalis Tunas Garuda Mulai Bersaing

JAKARTA - Hari ini, sejumlah 36 pesepakbola muda berbakat dari seluruh Indonesia bersaing menjadi yang terbaik dalam seleksi pencarian sepakbola Muda berbakat Tunas Garuda. Nantinya, 18 orang terbaik akan diberangkatkan ke Arsenal, London untuk berlatih sekaligus bertanding di sana pada 22 Oktober mendatang.

Seluruh peserta ini merupakan bibit unggul sepakbola Indonesia yang tergabung dalam National Camp Tunas Garuda di Sekolah Sepakbola Indonesia (SSI) Arsenal Indonesia. Mereka dituntut menunjukkan kemampuan terbaiknya untuk dapat dipilih sebagai pemenang dalam seleksi yang berlangsung di lapangan ISCI, Ciputat, Tangerang Selatan.

Pada pembukaan latihan perdana seleksi nasional hari ini dihadiri juga oleh Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Dirinya hadir bersama jajaran pengurus DPP Partai Demokrat lainnya untuk memberikan dukungan terhadap program ini.

"Selamat pada adik-adik sekalian yang terpilih dari puluhan ribu yang mengikuti seleksi di seluruh penjuru Indonesia. Kami bangga kami bisa memfasilitasi proses seleksi, kami juga bangga bisa menghadirkan adik-adik di sini," ujar Anas dihadapan para peserta seleksi, Senin (26/9/2011).

"Tolong adik-adik semua bersungguh-sungguh mengeluarkan seluruh kemampuan fisik dan mental karena proses seleksinya berjalan luar biasa keras, sehingga bisa terpilih 18 orang terbaik," tambahnya.

Seluruh peserta ini merupakan hasil seleksi dari ribuan pesepakbola muda usia 14-16 tahun. Mereka berasal dari sembilan kota besar di Indonesia, yakni Bandung, Makassar, Palembang, Semarang, Malang, Medan, Papua, Balikpapan, dan Jakarta.

Dalam National Camp Tunas Garuda ini, para talenta muda Indonesia itu akan digembleng selama dua pekan, dengan pematangan materi pematangan skill individual dan strategi tim. Mereka akan diawasi dan dinilai ketat oleh pelatih dari Soccer School Indonesia yakni Rully Nere, Jules Denis Onana dan Jang Sunday.

Dalam seleksi ini, sudah ada 3 orang pemain yang tergabung dalam timnas Indonesia U 16, yakni Terens OWang dari Jayapura, Febri Hariyadi dari Bandung, dan Rendy Refsanyami dari Palembang.

Para Finalis:

Bandung: Febri Hariyadi, Roby Januar, Fajar Nur Hakim, Solihin Al Amin.
Palembang: Rangga Pratama, Rendy Refsanyami, Ichsan Kurniawan, M.Eswin Agav.
Makassar: Melkisedek Bleskadit, Michael Aditya, Al Gazali, Muh. Tegar.
Jayapura: M.O. Podakan Urpon, Yunus N. Modouw, Terens Owang, Frengky P. Kogoy.
Malang: Nasir, Danang A.P, Yanuardi Dwi Putra W, M. Junio Suryana
Semarang: Rizal Yulian, Dani Raharjanto, Luqman Naim, Andre Putra W.
Medan: M. Bayu Kurniawan, Nazarul Fahmi, Indra K. Bungsu, Yoga Kusnanda.
Balikpapan: Mudakir, Tahir Balalio, Maulana, Febri A.P
Jakarta: M. Mulyarman, Adek E.K Chaniago, Steven Rau A.S, M. Syarga.

Sunday, September 25, 2011

Kompetisi U-16 dan U-18 Diputar Oktober

Semarang, CyberNews. Pengprov PSSI Jateng akan segera menggelar sembilan kompetisi kelompok umur tahun ini. Di antaranya kompetisi U-16 dan U-18 yang rencananya mulai diputar awal Oktober mendatang. Namun dari seluruh Pengcab yang ada, tidak semuanya berpartisipasi.
Dari hasil temu teknik yang berlangsung di Sekretariat Pengprov PSSI Jateng, komplek Stadion Citarum, Sabtu (24/9) lalu, kelompok U-16 hanya diikuti 16 tim, sedangkan U-18 diikuti 17 tim. Mereka dibagi menjadi empat grup dan bertanding menggunakan sistem setengah kompetisi.
Bidang Kompetisi Pengprov PSSI Jateng Budi Winarko menjelaskan, kompetisi ini menjadi salah satu usaha agar pembinaan sepak bola di tiap-tiap daerah tetep berjalan. Apalagi PSSI pusat belum mengagendakan kompetisi kelompok umur seperti U-16 Piala Menegpora dan U-18 Piala Suratin.
"Siapa tau, kompetisi Piala Menegpora dan Piala Suratin jadi diputar tahun ini sehingga dari Jateng sudah ada wakilnya. Bila tidak pun tidak menjadi masalah, karena pada dasarnya kami ingin pembinaan di tiap-tiap daerah
berjalan dengan baik," jelas Budi Winarko.
Dia juga tidak tau penyebab beberapa daerah yang tidak mengirimkan wakilnya. Padalah surat pemberitahuan tentang kompetisi ini sudah disebar. Selain U-16 dan U-18, Pengprov juga akan memutar kompetisi antar-PS anggota Pengcab, kemudian kompetisi U-10, U-11, U-12, U-13, U-14, dan U-17.
Salah satu daerah yang tidak mengirimkan wakilnya adalah Pengcab PSSI Kota Semarang. Padalah tahun lalu, wakil dari daerah ini juara tingkat Jateng kompetisi Piala Menegpora dan Piala Suratin. Tim U-16 Kota Semarang juga meraih juara nasional sedangkan PSIS Yunior runner up tingkat nasional.
Ketua Harian Pengcab PSSI Kota Semarang Ferdinand Hindiarto membenarkan hal itu. Ketidakikutsertaan Pengcab PSSI Kota Semarang di event tersebut karena faktor kesiapan. Saat ini Pengcab tengah mencurahkan seluruh tenaga untuk menggelar kompetisi tahunan, sehingga belum membentuk tim U-16 dan U-18.
"Kami juga telah menawarkan tiga klub papan atas hasil kompetisi tahun lalu untuk mengikuti kompetisi antar-PS yang diadakan Pengprov, namun tidak ada yang mau. Selain karena keterbatasan anggaran, pelaksanaan kompetisi yang digelar Pengprov bersamaan dengan kompetisi yang diselenggarakan Pengcab PSSI Kota Semarang,'' ungkapnya.

UNI A KU-12 Juarai Festival SSB Locomotive

BANDUNG, (PRLM).- Sekolah Sepak Bola (SSB) UNI A KU-12 tampil sebagai juara Festival SSB Locomotive yang memperebutkan Piala Kereta Api Indonesia I tahun 2011, setelah di final mengalahkan Sidolig 1-0, pada pertandingan yang berlangsung di Lapangan SSB Locomotive, Jalan Elang, Bandung, Sabtu (24/9). Gol UNI diciptakan Dimas pada menit ke-36.
Sementara di final KU-10, Saswco keluar sebagai juara setelahmengalahkan Sidolig 2-0. Gol untuk kemenangan Saswco dicetak oleh Beckham pada menit ke-3 dan menit ke-23.
Pada final KU-11, UNI A-3 berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Rick’s Sayati A 3-0 (0-0) melalui adu penalti. Gol UNI dicetak Fikrian, Rifki, dan Rio.
Sementara di final KU-13, Saswco mengalahkan Produta dengan skor telak 3-0. Gol untuk Produta dicetak Rizki menit ke-2, Zola menit ke-24, dan Rian Ilham menit ke-38.
Sementara itu pada semifinal KU-16, Rick’s Sayati akhirnya lolos ke final setelah mengalahkan Saint Prima 4-2 (0-0) melalui adu penalti.
Gol Rick's dicetak oleh Rizki GS, Rian, Dadi, dan Aep. Sementara gol untuk Saint Prima dicetak Herdio dan Gilang.
Di final yang akan berlangsung Senin (26/9), Rick’s akan menghadapi tim tuan rumah Locomotive A yang pada pertandingan lainnya mengalahkan Sultan Muda 1-0. gol untuk kemenangan Locomotive dicetak Dzikrian pada menit ke-45.
Pelatih Saint Prima, Bagiyo Yuli mengatakan, sejak babak pertama timnya menciptakan beberapa kali peluang. Namun, pemain masih sering terburu-buru, sehingga gagal memanfaatkan peluang yang ada.
“Jam terbang masih kurang, selain itu anak-anak ini disiapkan untuk pembinaan jangka panjang. Dan masuk ke semifinal ini merupakan target yang luar biasa, karena persiapan tim terbilang mepet,” tutur Bagiyo.
Pelatih Rick’s Sayati, Dadang Kurnia menuturkan kurangnya pemanasan membuat konsentrasi pemain tidak fokus, sehingga beberapa kali lawan bisa masuk ke dalam pertahanan.
“Secara keseluruhan cukup puas, organisasi anak-anak juga bagus. Mudah-mudahan di final nanti bisa juara,” katanya.

GOR Ragunan uara Festival Sepak Bola U-10

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekolah Sepak Bola (SSB) GOR Ragunan keluar sebagai juara Festival Sepak Bola U-10 yang diselenggarakan perusahaan pengiriman barang, JNE.
GOR Ragunan tampil sebagai juara setelah menang 3-2 atas SSB Jakarta Football Academy (JFA) di babak adu penalti dalam laga final yang berlangsung Minggu (25/9/2011) di Lapangan ABC, Senayan Jakarta. Pertandingan ini harus diakhiri lewat adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 2x10 menit.
Dengan kemenangan ini, GOR Ragunan berhak atas hadiah berupa trofi plus uang pembinaan sebesar Rp 2,5 juta. Sedangkan JFA berhak atas trofi plus uang pembinaan sebesar Rp 1,5 juta.
Sementara itu, tempat ketiga diraih oleh Villa 2000 yang mengandaskan SSB Bara Mega dengan skor tipis 1-0. Villa 2000 berhak menggondol hadiah berupa trofi plus uang pembinaan senilai Rp 1 juta.
"Kami berharap dengan diselenggarakannya Festival Pertandingan Sepak Bola U-10 ini, dapat menjadi ajang pencarian bibit-bibit pemain sepak bola nasional," ujar Johari Zein selaku Direktur Pelaksana JNE.
Festival ini diikuti 64 peserta yang terdiri dari SSB yang berasal dari Jabodetabek plus Cilegon dan Bandung. Format pertandingan festival ini berdurasi 2x10 menit tanpa istirahat. Tiap tim terdiri atas 7 pemain termasuk seorang kiper.
Festival tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua yang diselenggarakan oleh JNE. Sebelumnya, pada tahun 2009, JNE juga mengadakan turnamen yang sama dengan jumlah peserta mencapai 30 tim. Sukses di dua kali penyelenggaraannya, pihak JNE sudah berencana untuk menyelenggarakannya lagi tahun depan.
"Rencananya turnamen ini akan menjadi agenda resmi dari PSSI. Tahun depan kami akan menyelenggarakannya di 10 kota, termasuk Jakarta, Pontianak, Bandung, dan beberapa kota lainnya," ujar ketua pelaksana Festival, Donni Syahfrullah. "Besok kami akan membahas formatnya dengan pihak PSSI," lanjutnya.
Donni menambahkan, "Kami ingin lebih fokus ke pembinaan usia muda karena peduli dengan kemajuan sepak bola nasional yang terus melorot."

Friday, September 23, 2011

SSB Hasanudin: Niat Mewariskan Sepakbola Eks Punggawa PSM

NIAT hati dari para mantan pemain, tak ada kata lain, mewariskan sepakbola. Jadi, demi menampung bibit-bibit muda berbakat yang ada di Makassar supaya muncul pesepakbola yang profesional, dibentuklah Sekolah Sepak Bola (SSB) Hasanuddin.

Beberapa nama tenar penghias skuad PSM Makassar di zamannya pun turun gunung untuk mengabdikan diri pada klub ini. Sumirlan dan Syamsuddin Umar bintang Pasukan Ramang era 80-an menjadi pembina.

Sedangkan empat langganan skuad PSM era 90-an langsung berkutat di lapangan sebagai pelatih. Bahar Muharram, Amirullah, William Berger, dan Irfan Mirham sehari-hari memeras keringat mengarahkan latihan fisik dan teknik bagi tidak kurang 150 pesepakbola muda di Lapangan UVRI, Makassar.

Hasilnya tidak sia-sia, bahkan, boleh dibilang cemerlang. SSB Hasanuddin melambung kondang namanya sebagai tim kuat bagi klub-klub kelompok umur di Kota Anging Mamiri. Mereka meraih juara Danone Nation Cup 2011 dan berhak mewakili Indonesia ke Piala Dunia U-12 di Spanyol, 6-9 Oktober mendatang.

Awalnya, setelah menjuarai Danone Nation Cup 2011 di wilayah Makassar, Muhammad Fikran cs harus memanggungkan kemampuannya di Stadion Sumantri Brojonegoro, Jakarta. Bergegaslah para pemain dan ofisial klub berseragam merah-merah itu menyiapkan diri ke ibukota.

“Kami berangkat bertanding dengan modal pas-pasan. Kostum yang kami punya pun hanya satu set saja. Tapi semangat anak-anak ini luar biasa, hingga akhirnya kami berhasil menjadi juara,” ungkap Bahar kepada okezone, akhir pekan lalu.

Bahar menyebut, beberapa siswa SSB Hasanuddin dibebaskan dari membayar iuran. Hal itu karena mereka datang dari keluarga kurang mampu. Selain itu, sebagian besar anggota klubnya berdomisili di daerah pinggiran kota. Benar-benar anak kampung!

Kini, SSB Hasanuddin membagi kelasnya ke dalam kelompok umur 8-10 tahun dengan 50 siswa. KU 10-15 tahun ada 70 siswa dan KU 15-18 terdiri 30 siswa. Setiap pekan, latihan diadakan sore Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu. Laga uji coba digelar setiap Minggu sore.

Tidak banyak nama, selain mayoritas mantan pemain PSM, yang tercantum dalam struktur organisasi SSB ini. “Karena saya memegang prinsip, pengurus tidak usah terlalu banyak. Secukupnya saja. Sebab yang terpenting adalah bagaimana anak-anak ini mendapat dasar sepakbola yang baik, maka pelatih yang harus lebih banyak orangnya daripada pengurus lain,” ujar Bahar, usai melatih Fahril dkk di tim U-12 SSB Hasanuddin .

Claudius Dipo Alam, Pemain Muda Indonesia Di Amerika Serikat

Diaspora pesepakbola Indonesia di luar negeri tidak hanya melulu harus berkisar di kawasan Eropa. Seperti yang dilakukan Dipo Alam, kancah di liga amatir Amerika Serikat pun diarunginya guna memupuk mimpi menjadi pesepakbola profesional.

Keinginan kuat Dipo menjadi pemain sepakbola sudah dimulai sejak dini. Mulai menggemari olahraga si kulit bulat saat berusia tujuh tahun dengan bergabung ke Merdeka Boys Football Association (MBFA), Dipo kemudian memperkuat tim AS-IOP di ajang Piala Specs serta DKI Jakarta di Liga Bogasari U-15.
Tahun 2005, Dipo mengikuti seleksi Indonesian Football Academy (IFA). Dari 1350 peserta yang mengikuti seleksi, lima pemain dari Jakarta terpilih berdasarkan penilaian pelatih (almarhum) Ronny Pattinasarany. Bakat Dipo memang mencorong untuk kelompok usianya dan menjadi salah satu dari 18 pemain yang terpilih IFA untuk kemudian sedianya dikirim berlatih ke akademi Ajax Amsterdam.

"Setelah itu tidak ada kontak tanpa alasan yang jelas. Jadi dari situ saya pergi ke luar negeri. Setelah stay empat bulan di mess pemain, tapi ternyata berhenti di tengah jalan," kata Dipo dalam sebuah percakapan via Skype dengan pemimpin redaksi GOAL.com Indonesia Bima Said.

"Saya pikir, memang kecewa karena tak jadi ke Belanda, tapi saat itu too good to be true juga. Antara percaya dan gak percaya apakah bisa main. Dari kecil punya impian untuk main di luar negeri, membela klub besar. Tiap hari saya ikut seleksi dari rumah di Kemayoran, Jakarta Utara, naik bus, naik motor.

"Keluarga sudah bangga, bahkan saya sempat masuk TV. Dikasih uang saku. Kecewa, karena izin sekolah tiga bulan penuh dari jurusan IPA, sekolah sudah dikorbankan, mau fokus ke sepakbola maupun sekolah tapi susah," cerita pemain kelahiran 15 Februari 1989 ini.

Kekecewaan tidak menghambat semangat Dipo. Mengumpulkan tabungan dari sejumlah pekerjaan serabutan, putra ketiga pasangan Gustian Palindih dan Rosmawati Hasibuan ini menatap karier di luar negeri.

"Saya trial di klub lokal Heemstede melalui izin tinggal dua minggu," ujarnya.

"Pelatih di sana puas dan meminta saya mengurus visa untuk bisa lebih lama main di sini. Jadi saya pulang ke Indonesia untuk apply visa, tapi kemudian teman mengajak ke Amerika, sekalian untuk bersama-sama fokus meneruskan pendidikan sekaligus tidak ingin karier sepakbola terhenti, kami sama-sama mengurus visa ke Amerika Serikat. Lucunya, dia malah gak dapat visa, tapi saya dapat."

"Jadi di umur 17 tahun, saya merasa ini tantangan hidup, untuk mandiri, belajar sendiri dan mencari nafkah sendiri."

Di negara Paman Sam itu, Dipo meneruskan studi dengan berkuliah di Pasadena City College dengan jurusan Business Management. November 2006, Dipo mengikuti seleksi Chivas U-17. Namun, karena sudah memasuki usia 18 tahun, Dipo dikirim ke tim U-19 dan menjalani trial selama lima kali. Pelatih di sana memintanya menambah berat badan sampai hampir 15 kilogram untuk meningkatkan kemampuan.

"Saya harus ke gym dan butuh kurang lebih dua tahun untuk membentuk postur ideal yang diminta. Dari situ, saya ditunjuk mengikuti kompetisi U-23, yaitu Premier Development League (PDL). Banyak lulusan PDL yang ke MLS [Major League Soccer atau liga utama Amerika Serikat], bahkan Vedad Ibisevic dari TSG Hoffrnheim dan mantan pemain Manchester United Jonathan Spector adalah jebolan PDL. Saya lolos seleksi, sudah masuk tim, tapi kemudian terkendala masalah dana," sambungnya.

"Mereka akui sepakbola di AS bukan olahraga nomor satu, jadi berlatih lima kali seminggu, saya butuh perjalanan naik bus tiap hari dua jam untuk latihan. Padahal saya tetap kuliah. Mereka tidak bisa membiayai, solusinya saya harus ada green card yang juga bisa meringankan biaya kuliah, dan semuanya harus diurus sendiri."

"Jadi sambil mengurus green card, saya ikut liga amatir sambil fokus belajar. Sempat jadi tukang cuci piring di restoran Chinese, jadi waiter di restoran Jepang, pokoknya kerja keras untuk membiayai kuliah dan kebutuhan sehari-hari.

"Dari situ saya ikut kompetisi amatir dan bergabung dengan klub Turbo FC. Di sini saya membantu tim juara musim lalu dan jadi top scorer dengan 21 gol, termasuk dua gol di partai final untuk turnamen di California. Akhirnya saya terpilih sebagai MVP."

Tahun depan, Dipo berencana mengikuti seleksi program tahunan "One Shot One Goal", yang mengirimkan 23 pemain muda berlatih di Meksiko tahun ini. Berkat green card yang sudah dikantunginya, Dipo juga leluasa meneruskan karier sebagai pesepakbola. Ada beberapa kemungkinan lain yang dipikirkannya saat ini.

"Saya mungkin akan minta lagi untuk direkrut Legends FC di Premier Development League. Saya juga bisa trial ke Swedia, atau ke Cina. Waktu itu ada agen asal Cina yang memantau pemain-pemain di sini, salah satunya menawarkan main di Chinese Super League untuk memperkuat klub Guangzhou Pharmaceutical FC. Sekarang lagi diurus semuanya dan saya akan kontak agen itu untuk kepastiannya," tukasnya.

"Saya ingin melihat kesempatan manapun, saya akan mempertimbangkan semuanya. Saya ingin fokus buat diri sendiri dan banyak latihan, mengasah permainan. Sekarang bisa 100 persen siap, dan di manapun saya akan ambil kesempatan itu kalau sudah di depan mata."

Dipo juga tidak menutup kemungkinan berkiprah di tanah air.

"Klub Indonesia juga bisa dipertimbangkan. Saya mau main di manapun, saya di sini juga belajar tentang kehidupan. Tiap hari main bola sambil kuliah dan kerja. Saya sendiri, saya berpikir gimana mengatasi masalah dalam kerjaan, bagaimana tanggungjawab dalam studi," imbuhnya.

"Saya bersyukur, ini pengalaman hidup yang berharga. Sekarang saya 100 persen siap untuk melangkah ke tingkat yang lebih tinggi."

Dipo mengakui masih mengikuti perkembangan sepakbola nasional, termasuk perkembangan Syamsir Alam yang sudah dikenalnya sewaktu sama-sama memperkuat AS-IOP. Dipo berharap Alam sukses dengan kariernya di Peñarol saat ini sambil menitipkan pesan untuk meningkatkan kemampuan fisik, karena "susah hanya mengandalkan skill dan mengandalkan kecepatan dribble dalam sepakbola modern".

Sebagai pemain yang pernah mencicipi pengalaman bermain di Belanda dan Amerika Serikat, Dipo menyampaikan pesan yang gamblang kepada PSSI selaku otoritas sepakbola tertinggi nasional.
"Fokus ke pembinaan dan follow-up tanpa putus. Ide naturalisasi saya dukung karena mereka bisa bagi pengalaman, meski jangka panjang tidak begitu bagus. Harapan saya jangan sampai putus di tengah jalan dan saya dukung kalau PSSI melakukan program pembinaan dan kompetisi usia dini," sebutnya.

"Sebenarnya, kita tidak kalah jauh dengan pemain luar negeri. Di Belanda, sampai umur 18 tahun kita masih bisa bersaing. Di AS, U-17 main di Chivas tapi memasuki U-19 lain lagi, karena mereka lebih besar. Mereka benar-benar memperhatikan setiap pemain. AS-IOP jauh lebih bagus pembinaannya, tapi di AS mereka lebih berkesinambungan, setiap pemain diperhatikan."

Berbekal Rp 2.000, Antar Saputra ke Milan

 
fotoTEMPO Interaktif
, Palembang - Saputra, siswa SMP Negeri 6 Palembang, Sumatera Selatan, berhasil menjadi salah satu dari 18 pesepakbola cilik yang akan tampil dalam The All Star Milan Junior Camp (MJC) 2011 di Milan, Italia. Atas prestasi itu, maka Putra, panggilan akrabnya, akan menjajal Stadion San Siro, markas Milan, mulai 30 Oktober-15 November 2011.

Di negeri yang disebut sebagai kiblatnya sepak bola dunia itu, Putra akan mendapatkan pelatihan sepak bola dari pelatih dan pemain top dunia asal italia. Putra mengaku bangga bisa terpiih dari belasan ribu kontestan dari seluruh Indonesia.

Keberhasilan Putra mewakili Sumatera Selatan dalam ajang MJC 2011 bukan hal yang gampang. Anak tukang cuci pakaian ini mengatakan keberhasilannya menyingkirkan sekitar 1.300 kandidat lainnya dari seluruh Sum-Sel berkat kemauan keras dan hobi bermain bola sejak masih duduk di kelas tiga sekolah dasar. Awalnya ikut seleksi hanya coba-coba.

"Saya tidak menyangka bsa menembus ke Milan karena rata-rata teman saya bermain sangat bagus,” kata Putra yang ditemui di rumah kontrakan orang tuanya, Kamis siang, 22 September 2011.

Selanjutnya, bersama enam teman sebayanya, ia pun meninggalkan Palembang untuk mengikuti seleksi nasional yang berlangsung di Gelora Bung Karno Jakarta pada 3-10 September 2011 lalu.

"Saya bisa menginjak rumput Gelora Bung Karno saja sudah sangat bangga, apalagi lolos ke Milan. Alhamdulillah, saya bersyukur," ujarnya.

Keputusan panitia seleksi yang menyebut Putra akan dikirim ke Italia sangat mengagetkan dirinya. Betapa tidak, Putra bermimpi pun tidak sama sekali untuk dapat berlatih bola di stadion legendaris Italia itu. Karena itulah, bocah kelahiran 6 November 1996 ini mengaku sangat bangga. Mengingat dia menjadi satu-satunya perwakilan Sum-Sel dari 1.300 peserta seleksi Indonesia All Star Team Challenge di Stadion Kamboja pada 28-29 Mei lalu.

Putra mengisahkan kesedihan dalam proses perjuangan beratnya menuju Milan ini. “Saya tak punya uang sama sekali untuk bekal ikut seleksi Indonesian All Star Team Challenge di Stadion Kamboja,” ungkapnya.

Pada hari pertama tanggal 28 Mei 2011, Putra mengaku tidak sempat sarapan dan hanya memegang uang Rp 2 ribu. Duit itu pun dikasih sama teman bernama Lutfi. "Alhamdulillah, dari Rp 2 ribu itu saya bisa makan siang dengan empat biji pempek sepeda," katanya. "Lumayan untuk mengganjal perut sebelum menjalani seleksi lanjutan.”

Kesedihan yang lebih mendalam berlanjut di hari kedua, Minggu, 29 Mei 2011. Ketika itu, meskipun sebelum berangkat sempat sarapan sepiring mi, dia tidak memegang uang sama sekali. “Terpaksa tak bisa makan siang. Saya sebenarnya sempat minta sama ibu, tapi tidak diberi. Mungkin ibu lagi tidak ada uang," ujar Putra terisak sembari mengaku bisa memaklumi kondisi ibunya yang hanya tukang cuci dan ayah yang sudah meninggal.

Putra terpilih dan bergabung dengan pemain berbakat dari sembilan kota lainnya, seperti Jakarta, Bandung, Pekanbaru, Medan, Semarang, Malang, Makassar, Balikpapan, dan Bali. Ia mencoba untuk kembali mengingat awal keikusertaannya di ajang MJC 2011. ”Awalnya, setiap kota dipilih enam pemain berbakat. Selanjutnya, total 60 pemain menjalani seleksi nasional di Bali pada 18-21 Juni dan Jakarta 3-17 Juli lalu. Kemudian disaring kembali menjadi 18 pemain orang, termasuk saya,” kata Putra.

Keberhasilan Putra tak lepas dari dorongan orang tua tunggalnya, Juairia. Ia sangat bangga akan prestasi anaknya yang ia sebut sebagai mukjizat dari yang Mahakuasa. Lantaran selama ini Putra bermain bola tidak diikuti dengan kemampuan keuangan orang tuanya untuk membiayai setiap kebutuhan seorang siswa sekolah sepak bola. “Sekolah bola keinginan dia sendiri, biaya pun ia sendiri yang mencarinya," ujar Juairia.

Putra mengamini apa yang disampaikan ibundanya itu. Menurut Putra, untuk membiayai keperluan sehari-hari, seperti sekolah di SMPN 6 dan Sekolah Sepak Bola Pusri, ia terpaksa menjadi penjual koran keliling dari lorong ke lorong. Hingga saat ini, rutinitas itu masih dilakoni Putra sebelum berangkat ke sekolah.

Bola memang sudah begitu akrab dalam kehidupan Putra. Hampir seluruh pemain Sriwijaya FC, klub kebanggaan warga Sum-Sel, kenal dengan Putra. Keakraban itu terjalin lantaran Putra merupakan salah satu anak gawang ketika SFC tengah menggelar latihan. Selain itu, tempat tinggalnya yang hanya berjarak kurang dari 100 meter dari mess pemain SFC, menjadikannya kerap menjadi teman bergurau bagi seluruh pemain SFC.

Ini adalah tahun kedua MJC digelar di Indonesia. Sebelumnya, The All Star MJC Indonesia sukses menjuarai Milan Junior Camp Day Tournament setelah sukses menaklukkan pemain gabungan Italia di bawah bendera ASTI dengan skor 1-0. Saat itu, pemain berbakat asal Bali, I Putu Angga Eka, didaulat sebagai pemain terbaik, sementara Eriyanto sebagai kapten terbaik.

Wednesday, September 21, 2011

PSSI Bidik Pemain Liga Pendidikan Masuk Seleksi Timnas


MAKASSAR - Sekjen PSSI, Tri Gustoro memastikan bakat-bakat sepakbola yang terjaring dari gelarang Liga Pendidikan Indonesia tahun pembinaan 2010/2011 tidak akan terbuang sia-sia. Sejumlah program pengembangan dan talent scouting yang selama ini dilakukan diharapkan menjadi tangga menuju pemain profesional, hingga menjadi pemain timnas Indonesia.

Menurut Tri Gustoro, pada saatnya nanti para pemain berbakat yang saat ini tampil di putaran liga pendidikan akan menjadi bagian dari konsep pengembangan talenta muda yang digagas PSSI bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional, serta Kementerian Pemuda dan Olahraga.

"Pada waktunya mereka bisa menjadi bagian dari timnas sesuai tingkatan usia mereka. Itu mungkin saja terjadi mengingat saat ini proses talent scouting terus dilakukan. Mereka punya kesempatan mengikuti seleksi timnas pada waktunya," ujar Tri Gustoro.

Menurut Tri Gustoro, kualitas pertandingan, dan penyelenggaraan liga pendidikan tahun mendatang harus terus dilakukan penyempurnaan dan peningkatan. Liga antar pelajar yang memperebutkan piala Presiden tersebut menurutnya merupakan salah satu potensi besar yang harus bisa optimalkan.

“Saya melihat atmosfir sepakbola di Liga Pendidikan ini sudah cukup bagus. Meskipun memang harus ada penyempurnaan-penyempurnaan untuk putaran selanjutnya,” ujar Tri Gustoro.

Tuesday, September 20, 2011

Panduan Pra Musim - DR. Raymond Verheijen

Panduan umum untuk latihan pra musim yang digunakan DR Raymond Verheijen ketika bekerja dengan klub seperti Barcelona, Zenit, Chelsea, Man City atau Feyenoord. 
 
Minggu 1: Senin taktik, Selasa latihan kebugaran 11v11/8v8 (mis 3x10min), Rabu istirahat, Kamis taktik, Jumat taktik, Sabtu game amatir, Minggu istirahat.
 
Minggu 2: Senin taktik tidak ada game, Selasa latihan kebugaran 11v11/8v8 (3x11min), Rabu istirahat, Kamis taktik, Jumat taktik, Sabtu game amatir, Minggu istirahat.
 
Minggu 3: Senin taktik tanpa game, Selasa latihan kebugaran 7v7/5v5 (mis 4x5min), Rabu istirahat, Kamis taktik, Jumat taktik, Sabtu game pro, Minggu pemulihan.
 
Minggu 4: Senin istirahat, Selasa taktik, Rabu game pro (grup 1) & latihan kebugaran 7v7/5v5 (grup 2, mis 4x5.5min), Kamis pemulihan (grup 1+2), Jumat istirahat, Sabtu taktik, Minggu game pro (grup2) & game latihan kebugaran games 7v7/6v6/5v5 (grup 1, e.g. 4×5.5min).
 
Minggu 5: Senin pemulihan (grup 1+2), Selasa istirahat, Rabu taktik, Kamis game latihan kebugaran 4v4/3v3 (2x6x1min / 2 min istirahat), Jumat taktik (malam), Sabtu taktik (malam), Minggu game penuh (terakhir sebelum memulai musim dengan tim terkuat).
 
Minggu 6: Senin pemulihan untuk starting XI & game latihan kebugaran untuk pemain pengganti 4×5.5min 7v7/5v5, Selasa istirahat, Rabu taktik, Kamis latihan kebugaran 4v4/3v3 (mis 2x6x1min /1.5min istirahat), Jumat taktik (malam), Sabtu taktik (malam), Minggu pertandingan pertama liga.
 
"Tujuan utama dari pra musim ini adalah agar semua pemain datang training setiap hari sehingga dapat membangun tim yang terbaik. Salah satu golden rule dalam pra musim adalah Jangan latihan kebugaran atau test fisik pada Hari pertama. Pemain perlu hari pertama untuk memanaskan mesin. Juga jangan pernah latihan kebugaran pada hari yang berurutan. Selalu ada paling tidak 1 hari sebelum latihan kebugaran untuk menghindari kelelahan. Dengan pendekatan ini tim akan menjadi bugar dan lebih fit serta mengurangi injuri sehingga dapat bermain dan berlatih dengan pemain yang terbaik dan mengembangkan tim yang terkuat."

Monday, September 19, 2011

AC Milan Junior Indonesian All Star Team 2011

Kabar buruk menimpa Paolo Oktavianus Sitanggang, wakil Medan yang dinyatakan lolos bersama 17 pemain jebolan Milan Junior Camp 2011 ke Intesa San Paolo Cup, di Milan. Pasalnya, pesepakbola asal Sekolah Sepak Bola (SSB) Surya Putra Mariendal ini harus melupakan mimpinya untuk sementara, berangkat ke Italia.
Paolo dinyatakan tidak bisa berangkat, karena kondisinya tidak fit. “Paolo mengalami cedera, dan jempol kakinya retak. Dengan kondisi ini, posisinya harus digantikan oleh Maulid wakil dari Balikpapan,” ujar  Indria Djamil, Managing Director PT. Asia Sports Development (SAD) kepada GOAL.com Indonesia. Indria menyebutkan, tim Indonesia rencananya akan berangkat ke Italia, pada tanggal 30 Oktober 2011 mendatang.

Keputusan ini memang sangat menyedihkan bagi Paolo, sebab selama seleksi Milan Junior Camp di Medan, dia adalah pemain yang berhasil memiliki daya tahan terbaik dan berhasil memecahkan rekor dengan mencapai level  12 balikan 1, di mana rekor sebelumnya dipegang anak Bandung yang hanya mencapai level 11 balikan 10 dalam blip test. Anak yang mampu mencapai level 12 adalah anak-anak yang memiliki sistem pernafasan yang baik,  dan itu sangat penting bagi pesepakbola.

Beruntung, masih ada pesepakbola wakil Medan yang juga berangkat ke Italia. Dia adalah Okka Dwi Sahputra (SSB Sinar Sakti) yang dinyatakan lolos usai seleksi akhir di Jakarta beberapa waktu lalu. Okka Dwi Sahputra adalah termasuk satu dari enam anak Medan yang lolos seleksi awal di Medan. Okka bersama Paolo dan empat pemain lainnya kemudian menjalani seleksi lanjutan di Bali. Di Bali, hanya Paolo dan Okka yang jadi wakil Medan yang dinyatakan lolos seleksi di Jakarta.

Dalam seleksi akhir yang diikuti 26 anak inilah, Okka masuk dalam tim inti yang dihuni 18 pemain untuk ke Italia bulan depan. Okka yang dihubungi Senin sore mengatakan, senang bisa berangkat ke Italia. “Perasaan saya senang bisa lolos ke Italia. Saya akan latihan terus di Medan sebelum dihubungi lagi untuk berangkat ke Italia,” pungkasnya. (gk-38)

18 Anak Indonesian All Star Team 2011

No.         Nama                                                            Daerah
1.            Gianluca Pagliuca Rossy                               Semarang
2             Muhammad Fadly Habibi M                           Bandung
3             Rahmanto                                                    Balikpapan
4             Bambang Tri Atmojo                                     Semarang
5             Adi Irawan                                                   Pekanbaru
6             Panca Andy Radto                                        Makassar
7             Dhanu Saputra                                             Malang
8             Adnan Faturrahman                                     Makassar
9             Suprianto Sabar                                           Malang
10           Rosi Nuril H.A                                                Semarang
11           Fallen Mariar                                                 Bali
12           Okka Dwi Syahputra                                     Medan
13           Hamzah Risfian                                             Malang
14           Saputra                                                        Palembang
15           Sofyar Satrio Utomo                                     Surabaya
16           M. Maulid                                                      Balikpapan
17           Gavin Kwan Adsit                                         Bali
18           Sabeg Fahmi Fachrezy                                 Bali

Ryuji Utomo Coba Meraih Mimpi Di Uruguay



Namanya adalah Ryuji Utomo, ia berposisi sebagai gelandang yang tempil begitu elegan. Pertengahan tahun ini, Ryuji menerima kebahagiaan yang tak terkira saat namanya dipanggil memperkuat tim SAD Indonesia yang tengah berkompetisi di Uruguay. Ia mengisi slot pemain yang kosong pasca direkrutnya tiga pemain SAD Indonesia oleh klub RCS Vise Belgia.

Pestasi ini juga sekaligus mengobati kegagalannya melaju hingga putaran nasional Liga Pendidikan Indonesia Tahun Pembinaan 2010/2011. Ryuji yang membela SMA Muhammadiyah Limau, harus tersingkir di babak awal.

Kendati demikian, kemampuan individu Ryuji  tetap mendapat pengakuan. Pemanggilannya ke Uruguay adalah bukti dari kualitas yang dimilikinya. Di Uruguay, Ryuji akan bergabung dengan rekan – rekan alumnus Liga Pendidikan Indonesia lainnya seperti Hadi Wibowo, Wawan Febrianto maupun Antony Putro Nugroho.

Pembinaan di Uruguay sendiri  tengah mendapat sorotan yang positif. Terlebih menilik prestasi timnas Uruguay pasca Piala Dunia 2010 dan pada Copa America 2011 ini. Kompetisi yang berjenjang, serta persaingan yang ketat membuat para pemain memiliki kesempatan untuk memperoleh jam terbang level tinggi.

 "Kualitas tinggi kompetisi di Urugay merupakan pintu menuju sepakbola top level," seru Demis Djammaoedin, Manager SAD Indonesia.

Bakat sepakbola Ryuji terasah dengan baik setelah berlatih dengan klub VILLA 2000 sejak usia 10 tahun. Ia pun pernah tercatat sebagai pemain tim Danone, MUPC, Haornas dan Suratin VILLA 2000. Ia juga telah mengenyam jam terbang internasional dengan menjadi anggota Tim Sister City ke Jepang dan Timnas U14 ke Malaysia. Tidak hanya itu, Ryuji juga pernah menjalani latihan intensif di National Voetbaldagen - FC Zeewolde, Belanda.

Manajemen Villa 2000 pun menyambut gembira keberhasilan Ryuji bergabung di Uruguay. "VILLA 2000 merupakan klub penyumbang pemain terbanyak ke SAD Indonesia. Ini merupakan komitmen kami untuk menembus sepakbola top level dunia," seru Asher Siregar, CEO Villa 2000.

Tidak hanya itu, presrasi ini juga menambah daftar panjang kesuksesan pemain yang pernah tampil di Liga Pendidikan Indonesia. Mari doakan terus kiprah Ryuji dan eksistensi Liga Pendidikan Indonesia sebagai kawah candradimuka pembinaan sepakbola nasional

Sunday, September 18, 2011

MSG Cari Bakat Muda Lewat Kompetisi Antarpelajar SMP

Munial Sport Group (MSG) membuat langkah terobosan dengan menghadirkan kompetisi sepakbola antarpelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kompetisi ini dinamai Junior Football League (JFL).

MSG, yang merupakan pihak yang menghadirkan Cesc Fabregas dan Rio Ferdinand ke Indonesia, akan menggelar kompetisi ini di Jakarta dan diikuti 20 sekolah. Pertandingan akan dilangsungkan di lapangan sekolah Al-Azhar Pusat.
Pertandingan liga ini akan digelar setiap Sabtu selama 13 minggu dengan sistem setengah kompetisi hingga 3 Desember 2011.

Tujuan MSG meluncurkan JFL adalah untuk mengembalikan sepakbola ke dalam wadah pendidikan yang diikuti 20 sekolah SMP ternama di Jakarta. MSG juga akan melihat bakat-bakat muda yang muncul di dalam kompetisi yang nantinya diharapkan bisa menambah bintang-bintang baru dalam jajaran pemain profesional dan memperkuat tim nasional Indonesia.

"Kami concern dengan keadaan olahraga di Indonesia, terutama sepakbola. Kami ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak sekolah untuk lebih banyak bermain dan bersaing di dalam sepakbola, hingga mereka siap secara skill dan mental," ungkap Mulawan Munial, presiden direktur MSG.

"Sekarang 20 sekolah, dan mungkin nanti bertambah jadi 40, kemudian tahun depan digelar di lima sekolah hingga 5 tahun ke depan kami targetkan ada sepuluh kota yang menggelar liga ini

PSSI Pertahankan Timnas U15

Bola.net - Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin berharap para pemain Timnas U-15 yang baru saja menjuarai Piala Pelajar Asia 2011 di Thailand jangan sampai bubar dan mereka diproyeksikan sebagai pemain inti Timnas U-16 pada tahun 2012.

"Tim ini jangan sampai bubar. Kalian diharapkan bisa menjadi pemain inti pada Timnas U-16 tahun depan," kata Djohar Arifin saat menerima kedatangan Ajis Nurdin dan kawan-kawan di Sekretariat PSSI Senayan Jakarta, Kamis (15/9).

Djohar Arifin yang didampingi anggota Komite Eksekutif Tony Apriliani, menerima rombongan Timnas U-15 yang dipimpin Manajer Tim Roni Iswandi, beberapa ofisial lain dan sepuluh orang pemain yang mewakili.

Timnas U-15 pada Minggu lalu tampil sebagai juara pada Piala Pelajar Asia 2011 atau Asian Student Sup Football Tournament yang digelar di Thailand dan rombongan telah kembali ke Tanah Air pada Senin (12/9).

Timnas tampil juara setelah di final mengalahkan tuan rumah Thailand dengan skor 2-1.

Djohar mengungkapkan, PSSI setiap tahun harus menyiapkan tim di berbagai tingkatan usia sehingga sebuah tim yang mampu berprestasi sangat berpotensi untuk dibina lebih lanjut sebagai calon pemain masa depan.

"Kalian semua adalah pejuang dan pahlawan. Tampil sebagai juara Asia dengan mengalahkan Thailand di kandangnya adalah tidak mudah karena harus pula menghadapi tekanan dari penonton," ujarnya.

Selain Timnas U-15, Djohar Arifin mengungkapkan Timnas U-16 juga tengah berjuang di ajang Pra Piala Asia dan berhasil memetik kemenangan atas Myanmar 4-1 dan melawan Hong Kong 2-0.

Sementara Timnas U-19 juga sedang bertanding di Kejuaraan ASEAN di Myanmar.

"Timnas Senior kita juara ASEAN saja sulit. Di Piala AFF kita belum pernah juara. Prestasi yang kalian buat adalah prestasi kalian, bukan prestasi pengurus PSSI. Kami minta kalian jangan cepat berpuas diri karena perjuangan masih sangat panjang," kata Djohar Arifin.

Materi Timnas U-15 merupakan kombinasi para pemain dari Indonesia Football Academy (IFA), Jakarta Football Academy (JFA), MUBA, dan UNI Bandung.

Selain meraih gelar juara, sukses Timnas U-15 dilengkapi trofi tim "fair play", pemain depan Indra Kelana Nasution sebagai pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak, sedangkan Awan Setoraharjo sebagai penjaga gawang terbaik.

Wednesday, September 14, 2011

Striker Timnas Indonesia U-16 Terens Owang Pernah Ditolak Main Bola Karena Dinilai Terlalu Pendek, Hingga Menjual Kaleng Untuk Beli Bola

Terens Owang (GOAL.com/Dominggus A Mampioper)

Marince Fonataba, perempuan paruh baya ini sangat terharu dan bangga saat mendengar putranya mampu mencetak gol dan terpilih memperkuat timnas U-16 berlaga di Thailand.

Dia baru saja telepon, bilang kalau mencetak gol dan meminta doa ibu agar menambah semangat dalam bertanding. Padahal, ibunya masih ingat betul, dulu ketika Terens Owang Priska Puhuri masih berumur 10 tahun, ia ingin sekali membeli bola kaki tapi tak punya uang sepeserpun. Apalagi sejak ayahnya Ricky Nelson Puhuri pergi meninggalkan mereka. Praktis hanya ibunya seorang diri yang menjadi orang tua sekaligus ayah bagi mereka.
Memahami pekerjaan mamanya yang berat menjadi pembantu dan sesekali mencuci pakaian di rumah pejabat, hingga Terens dan kedua saudaranya tidak banyak sekali menuntut. Justru, dia ikut menolong dan membantu Mama Fonataba.

“Bola kaki barang mahal yang tak bisa mama beli," tutur Mama Fonataba kepada GOAL.com Indonesia di kediamannya, Jl Angkasapura, Jayapura, Rabu (14/9).

Sejak adik perempuannya masih dalam kandungan, ayahnya telah pergi meninggalkan mereka, praktis hanya Mama sendiri yang membesarkan ketiga anak.

"Saya harus membesarkan ketiga anak saya masing-masing, Ricardo, Terens dan Novila,” papar Mama Fonataba.

Kakaknya yang tertua sekarang masih duduk di kelas III SMA dan adiknya sekolah di SMP. Kondisi inilah yang membuat Mama Fonataba terus membanting tulang mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Sementara Terens sendiri sekarang bersekolah di SMA Taruna Persada Jakarta dan pelatih Amos Makanway dari SSB Numbay Star yang mengurus pendidikannya.

"Mama masih berharap Terens pulang saja ke Jayapura untuk kita mengucap syukur atas semua perjalanannya ke Thailand,” tutur Mama Marince Fonataba.
Tekadnya yang bulat untuk membeli bola kaki sangat besar dan setiap hari dia berjalan kaki mengumpulkan kaleng-kaleng aluminium bekas minuman ringan dari rumah ke rumah untuk dijual.

"Waktu itu kita tinggal di Argapura dan hampir setiap hari Terens bersama teman-temannya selalu bermain bola,” papar Mama Fonataba.

Kemudian hasil jualan kaleng bekas dipakai untuk membeli bola dan setiap hari sesudah pulang sekolah. Bola itulah yang selalu ditendang bersama teman-teman sebayanya.

Bakatnya mulai kelihatan saat terpilih dan masuk ke Sekolah Sepakbola Numbay Star pada 2007 lalu. Kebetulan penasihat dan pembina SSB Numbay Star adalah kepala dinas Pekerjaan Umum (PU) provinsi Papua, Jansen Monim. Bahkan anak kepala dinas PU Papua, Rey Monim juga pemain bola SSB Numbay Star bersama Terens. Walau berteman akrab dengan Rey tetapi Terens selalu bekerja di rumah kepala dinas PU untuk menyiram bunga dan membersihkan halaman.

"Bapak dan Ibu Monim sangat baik dan selalu bersedia membantu kami," tutur Mama Fonataba terharu.

Dia menuturkan, Terens pertama kali hendak bergabung main bola pada 2006 bersama Numbay Star, dicoret karena dinilai terlalu pendek. Hal ini membuatnya hampir putus asa tetapi kemauannya sangat keras untuk mengasah ketrampilannya bermain bola. Barulah pada 2007, Terens  terpilih dan memperkuat SSB Numbay Star, waktu itu timnya gagal jadi juara Liga Danone karena kalah melawan Akademi Sepakbola Emsyk. Setahun kemudian, Numbay Star menjadi juara Liga Danone setelah mengandaskan Emsyk dan berangkat ke Jakarta. Di Jakarta, Terens dan kawan-kawan hanya sampai ke babak semi-final saja dan kalah melawan Jawa Tengah. Namun setidaknya Terence terpilih menjadi pemain terbaik dan menjadi topskor dengan torehan lima gol.

“Saat bermain di SSB Numbay Star dia selalu menempati posisi sebagai striker, tetapi di timnas U-16 posisinya di gelandang," tutur pelatih SSB Numbay Star, Amos Makanway.

Dia itu adalah pemain selalu bermain dengan sentuhan bola dari kaki ke kaki. Skill individunya bagus dan juga memiliki bakat yang mumpuni. Bukan hanya itu saja, tapi larinya sangat kencang hingga tak heran kalau memiliki speed yang tinggi.

Terens Owang Priska Puhuri lahir di Jayapura, 13 Oktober 1996. Menurut sang pelatih, dia memiliki peluang untuk bisa menjadi bintang masa depan Persipura atau mungkin timnas.

"Asalkan perlu motivasi dan dorongan yang tinggi dari semua pihak,” harap Amos Makanway.

Hal senada juga diungkapkan penasihat teknis Persipura U-15, Ferdinando Fairyo, yang menilai gaya bermain Terens hampir mirip dengan Zah Rahan.

"Saya justru mengusulkan dia bisa magang bersama skuad Persipura senior," papar Fairyo

Indra Nasution, Topskor & Pemain Terbaik U-15 Piala Pelajar Asia 2011

Prestasi membanggakan ditorehkan timnas U-15 di ajang Piala Pelajar Asia yang berlangsung di Thailand 2011. Indonesia meraih juara, usai menaklukkan tim tuan rumah Thailand 2-1. Tidak hanya menggondol gelar juara, tapi juga menyabet empat gelar bergengsi lainnya, yakni Topskorer dan Most Valuable Player (MVP), tim Fair Play, dan Penjaga Gawang Terbaik.

Kemenangan yang dirasa menjadi oase di tengah kekalahan beruntun timnas senior di Pra Kualifikasi Piala Dunia 2014 ini, sangat dimaknai oleh Indra Kelana Nasution. Pemain ini langsung membawa pulang dua piala yang diraihnya, sebagai topskor dengan tujuh golnya selama Piala Pelajar Asia dan MVP ke kampung halamannya di Medan. Ketujuh gol yang dicetak Indra, bersarang ke gawang Vietnam (2 gol), Filipina (3 gol) dan Brunai (2 gol).

Indra telah kembali ke Medan, sejak Selasa (13/9) sore, usai kepulangan tim dari Thailand. Indra yang ditemui usai siaran live di salah satu televisi swasta di Medan, Rabu (14/9), masih tampak canggung. Bungsu dari tiga bersaudara ini, mengaku, masih belum bisa percaya bisa memegang dua piala sebagai catatan prestasinya.

“Saya hanya bermain sebaiknya dengan semangat bersama tim. Jadi sama sekali enggak sangka bisa jadi pencetak gol terbanyak, Indonesia juara dan saya juga terpilih sebagai pemain terbaik,” ujarnya didampingi pelatih SSB, Medan Soccer School, Syahriful. SSB ini adalah tempat kali pertama, Indra menimba ilmu sepakbola sejak kelas V sekolah dasar (SD).

Sampai di Medan, Indra mengatakan menjumpai keluarganya dan malamnya langsung menginap di rumah pelatih SSB-nya, Syahriful. “Saya ingin istirahat dulu, tapi besok saya sudah latihan lagi, bersama SSB  Medan Soccer School, biar tetap jaga kondisi,” tambahnya.

Sejak kecil, penggemar Bambang Pamungkas ini menjadikan si kulit bundar sebagai masa depannya. “Saya suka, dan kebetulan almarhum bapak juga suka sepakbola. Jadi masih SD, saya didukung jadi pesepakbola dan dimasukkan ke SSB di dekat rumah,” ungkapnya.

Keseriusannya berbuah manis. Setelah selalu menjadi andalan lini depan SSBnya di segala turnamen di Medan dan Sumatra Utara, Indra mencoba peruntungan lebih besar dengan mengikuti seleksi skuad timnas U-14 yang digelar di Stadion Teladan 2009. Saat itu, seleksi yang dilaksanakan Pengprov PSSI Sumut, Indra terpilih bersama dua pemain lainnya untuk ke Jakarta.

“Sampai di Jakarta, kami diseleksi lagi, dan kemudian saya sendiri yang terpilih lalu saya dimasukkan ke IFA (Indonesiaan Football Academy),” timpalnya.

Selama di IFA, Indra juga harus rela meninggalkan keluarganya di Medan dan kemudian juga pindah sekolah ke Jakarta. “Di sana (IFA) semua serba disiplin, baik  jam keluar, makan dan latihan.  Awalnya ya susah meninggalkan orangtua, tapi mereka mendukung saya, jadinya saya juga semangat,” tukasnya.

Pencapaian yang sudah diraihnya hingga usia 15 tahun, diakui Indra tak ingin dirasakannya sebagai ‘kepuasaan’. “Masih banyak yang harus saya lakukan. Saya mau masuk timnas di jenjang umur selanjutnya sampai senior, dan berharap masih tetap bisa membela Indonesia,” jelasnya.

Syahriful, menambahkan, pencapaian Indra adalah hasil kerja keras. “Saya ingin dia tetap berlatih dengan baik, dan jangan cepat puas.  Walau kami akui, sejauh ini, baru Indra, satu-satu anak didik kami yang bisa masuk timnas, yang lainnya hanya di klub liga Indoenesia. Saya ingin dia jadi pemain yang rendah hati,” pungkas mantan pelatih Penajam Medan Jaya dan PSSA Asahan ini. (gk-38)

Data Pribadi

Nama: Indra Kelana Nasution
Tempat/Tanggal Lahir: Medan, 15 Juni 1996
Pendidikan:
                  -SMA Kelas I SMA Said Naum Jakarta Pusat
                  -Indonesian Football Academy (IFA)
Alamat: Jalan Karya Jaya, No. 9 Medan
Orangtua:  - Alm. Rusli Nasution (bapak)
                  - Sukisni (Ibu)
Tinggi/Berat Badan: 178 Cm/65 kg
Prestasi:                 
-2006/2007-Juara saat membela SSB Medan Soccer School, Antar-SBBdi SSB Patriot
-2009-Runner-up saat membela SSB Medan Soccer School, Piala Menegpora.
-2009-Juara II bersama Timnas U-14 di Malaysia-(2 Gol)
-2010-Juara bersama IFA di Piala Menegpora International (3 Gol)
-2010-Runner up bersama IFA Piala Nike di Jabar (4 Gol)
-2010-Topskor Jakarta International Tournament (5 Gol)
-2011-Timnas AFF U-16 di Laos (2 Gol)
-2011-Juara bersama Timnas U-15, Piala Pelajar Asia di Thailand
         -Topskor Piala Pelajar Asia (7 Gol)
         -Most Valuable Player Piala Pelajar Asia

U19 Kalahkan Brunei

Bola.net - Setelah sebelumnya mengalami kekalahan telak atas Vietnam U-19, Timnas Indonesia U-19 berhasil bangkit dan meluluhlantakkan Brunei Darussalam sepuluh gol tanpa balas, di Stadion Aung San, Rabu (14/9).

Seperti yang dikutip dari situs resmi Asean Fottball, skuad asuhan Zulkifli Alfat sudah unggul di menit ke-10 melalui Syahru Ramadhan.

Selanjutnya, Skuad Garuda Muda terus menggempur pertahanan Brunei, hasilnya hanya dalam waktu tiga menit Indonesia berhasil mencetak tiga gol, yakni di menit ke-27 dan 28 melalui Rahmat Johani Saputro dan Zoel Fhadli di menit ke-29.

Di akhir babak pertama Indonesia kembali menambah pundi-pundi golnya melalui, Rahmadana di menit ke-36 dan Zoel Fhadli di menit ke-29 dan 44.

Brunei benar-benar bukan lawan sepadan bagi Indonesia, buktinya di babak kedua gawang Brunei kembali kebobolan empat gol.

Dua pemain Indonesia, Zoel Fhadli dan Rahmat Johani Saputro berhasil menambah satu gol sekaligus mencetak hattrick.

Pesta gol Indonesia diakhiri oleh dua gol Dian Ardiansyah yang dibukukan di menit ke-60 dan 73.

Dengan hasil ini, Indonesia berhasil meraih empat poin dan berada di urutan ketiga, sedangkan Vietnam dan Myanmar masih berada di urutan pertama dan kedua dengan tujuh dan lima poin.

Sedangkan Laos berada di urutan keempat dengan tiga poin dan Brunei masih berada di dasar klasemen tanpa mendapatkan satu poin pun.

Pertandingan selanjutnya Indonesia akan melawan Myanmar pada 16 September, laga ini sekaligus laga penentuan Indonesia untuk lolos ke babak selanjutnya.

Indonesia U-16 Tundukkan Hong Kong 2-0

Bola.net - Timnas Indonesia U-16 kembali meneruskan tren positifnya, Skuad Garuda Muda berhasil menaklukkan Hongkong dengan skor 2-0 pada laga kedua kualifikasi AFC U-16 Grup G, di Stadion Yamaha, Chonburi, Thailand, Rabu (14/9).

Sebelumnya, Indonesia berhasil mengalahkan Myanmar dengan skor telak 4-1, di mana gol-gol Indonesia dicetak oleh Helmi Madila Ihza dan Terens Owang Priska Puhuri yang berhasil mencetak hattrick.

Gol Indonesia dicetak oleh Gavin Kwan Adsit ketika pertandingan baru berjalan dua menit.

Sedangkan gol penutup kemenangan Indonesia dicetak oleh striker yang bakal menjadi bintang masa depan Indonesia, Terens Owang Priska Puhuri, tiga menit sebelum pertandingan usai.

Dengan hasil ini, poin Indonesia sama dengan tuan rumah Thailand yang memuncaki klasemen dengan enam poin, namun Thailand unggul selisih gol.

Di peringkat ketiga dan keempat dihuni oleh Australia dan Hongkong dengan tiga poin, sedangkan Myanmar dan Guam masih berada di dasar klasemen tanpa meraih satu poin pun.

Di pertandingan selanjutnya, Indonesia akan menghadapi tim lemah Guam, pada tanggal 17 September

3 Orang dari Tim Rumah Cemara Raih Beasiswa Sepakbola di Inggris

Bandung - Tim Rumah Cemara, mewakili Indonesia bertolak ke Perancis untuk mengikuti Homeless World Cup 2011. Mereka akan pulang kembali ke Indonesia pada tanggal 31 Agustus mendatang atau tepat saat lebaran. Namun 3 dari 9 orang rombongan yang berangkat akan kembali meneruskan perjalanan ke Inggris karena mendapatkan beasiswa berupa short course dari Brighton and Hove Albion.

Tiga orang tersebut yaitu Deradjat Ginandjar, Gimgim Sopyan, dan Leonardus Adim yang merupakan pelatih Tim Indonesia. Sekitar seminggu lamanya mereka akan mendapatkan pelatihan tentang bagaimana sepakbola dapat menjangkau masyarakat yang mendapatkan masalah.

"Kebetulan waktunya deketan, jadi dari Perancis nanti ada 3 orang termasuk saya yang nerusin ke Inggris. Jadi baru pulang ke Indonesia bulan September," ujar Deradjat Ginandjar saat berbincang sebelum pergi ke Bandara di Rumah Cemara, Jalan Gegerkalong Girang, Kamis (18/8/2011).

Ginan, begitu ia akrab disapa mengatakan pelatihan tersebut nantinya akan menjelaskan, bagaimana dampak dan jangkauan sepakbola bagi masyarakat yang terimbas masalah. "Pelatihan nanti untuk menjangkau masyarakat yang bermasalah melalui sepakbola," tuturnya.

Ia berharap, dengan mengikuti pelatihan tersebut, dapat membawa perubahan yang lebih baik pada kaum termarginalkan melalui sepakbola.